Sabtu, 19 Oktober 2019


Pendidikan seks pada anak di Indonesia masih sering dilewati dan disalahpahami. Hal ini menyebabkan ada beberapa topik mengenai seks yang tidak dibahas oleh orangtua.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser menyebut setidaknya ada tiga topik pendidikan seks yang kurang dibahas oleh orangtua pada anaknya. Padahal, jika para remaja tidak mendapatkannya, mereka menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Topik pertama adalah pengetahuan mengenai kehamilan dan pernikahan di bawah 20 tahun, rentan berbagai risiko kesehatan. Hanya 38 persen dari 500 responden remaja yang mengatakan mereka telah mendapatkan edukasi semacam ini.

"Padahal, dalam penelitian ini, banyak yang sudah melakukan aktivitas seksual di usia 18 sampai 20 tahun. Mereka tidak pernah membicarakan atau diskusi tentang topik yang penting ini," kata dokter Helena Rahayu Wonoadi dalam pemaparannya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Topik kedua adalah mengenai penjelasan rinci soal anatomi tubuh manusia dan organ reproduksinya. Hanya 29 persen yang mengaku mendapatkannya.

"Seolah-olah tema itu tabu atau tidak perlu. Sayang sekali," kata Helena menambahkan.

Sementara, Helena mengatakan hanya 24 persen yang mendapatkan edukasi soal hubungan seksual yang sehat meliputi penggunaan dan alat kontrasepsi dengan baik dan benar.

"Bagaimana penggunaan pengaman dan alat kontrasepsi yang baik dan benar tidak pernah didiskusikan. Jadi ini ironis sekali mengenai temuan dari tiga topik yang tidak pernah didiskusikan," ujarnya.

Pada sisi lain, tiga topik lain yang paling banyak dibicarakan dalam edukasi seks antara orangtua dengan anak adalah tanda-tanda pubertas yang dialami (65 persen), hubungan seksual di luar nikah berdasarkan aturan agama dan budaya yang dianut (58 persen), dan seputar percintaan atau pertemanan di lingkungan sosial (52 persen).


0 komentar:

Posting Komentar